Minggu, 13 Mei 2012

Matematika Peluntur Kesombonganku


Matematika peluntur Kesombonganku
Matematika bukan hanya sebagai ilmu, matematika juga mengandung kultur, kreatifitas dan konteks. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk mengetahui seluk beluk matematika. Pada dasarnya, unsur kehidupan itu ada dua, yaitu ruang dan waktu.  Dengan adanya ruang, maka kita akan tahu bagaimana fisik, wujud, wadah maupun isi tentang sesuatu.  Misalnya saja, bentuk kursi, bentuk meja, keadaan kelas, panjang kertas, lebar jalan, dan lain sebagainya.  Untuk dapat saling mengenal dan berkomunikasi, kita juga membutuhkan dengan yang namanya ruang, sungguh berharganya fungsi ruang dalam kehidupan kita. Seandainya segala sesuatu dimampatkan hingga menjadi satu titik, dan sebaliknya satu titik direntangkan dengan rentangan yang tak hingga, lalu apa yang akan terjadi pada kita, dan pada kehidupan kita. Aku disini dan Mekah disini, aku disini dan Santiago Barnebau disini, Jupiter disini dan bumi disini. Tentu terbayangkan oleh kita, bagaimana akan kacaunya kehidupan ini. Semuanya akan menjadi sesuatu yang sama, tanpa tebal, tanpa panjang, tanpa isi, tanpa wadah dan tanpa bentuk.  
Selain itu, waktu juga merupakan unsur suatu kehidupan. Waktulah yang membedakan antara dulu, sekarang dan masa mendatang. Waktu pula yang membuat kita tampak berbeda dulu dan sekarang. Waktu pulalah yang membuat zaman menjadi berubah. Tanpa adanya waktu, bisa dipastikan dunia tidak akan pernah berjalan. Saat ini kita hidup, dan saat ini pula kita mati. Saat ini matahari terbit, dan saat ini pula matahari terbenam.  Lalu apa pula yang akan terjadi pada kita dan kehidupan kita. Tentu kehidupan tak terasa seperti hidup, kematian tak terasa seperti mati. Bukan karena berlangsung sangat cepat, namun karena cepat itu sendiri tidak dapat terdefinisikan. Jika kita bandingkan umur yang akan kita jalani, dengan umur dunia  dari mulai terbentuk, tentu perbandingannya akan sangat kecil sekali, tidak akan pernah sampe satu persennya. Kita tidak akan ada apa-apanya, dan dapat diibaratkan  bagai sebutir debu di tengah gurun pasir.
Jadi, kita sebagai matematikawan, pecinta dan pengagum matematika, sudah seharusnya menyadari betapa matematika itu bukan hanya sekedar ilmu, matematika juga alat sebagai pengingat, intropeksi diri, dan mungkin juga sebagai jembatan yang diberikan Tuhan, agar kita selalu bersyukur. Alangkah sombongnya seorang matematikawan yang lupa akan diri dan kodratnya. Waktu dan ruang yang telah disediakan sesempurna mungkin oleh yang Maha Kuasa, tidak dimanfaatkan sebaik – baiknya, menyia-nyiakan dengan kegiatan yang malah membuat sang Pencipta merasa tidak dihormati dan dihargai. Sesungguhnya ruang dan waktu yang disediakan adalah lahan untuk menciptakan sebanyak-bayaknya kebajikan dan kebaikan, bukan malah membanggakan dan menyombongkan diri yang sebenarnya tidak berarti apa – apa dimata sang pemilik ruang dan waktu.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;