Matematika bukan hanya sebagai ilmu, matematika juga mengandung
kultur, kreatifitas dan konteks. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk mengetahui
seluk beluk matematika. Pada dasarnya, unsur kehidupan itu ada dua, yaitu ruang
dan waktu. Dengan adanya ruang, maka
kita akan tahu bagaimana fisik, wujud, wadah maupun isi tentang sesuatu. Misalnya saja, bentuk kursi, bentuk meja,
keadaan kelas, panjang kertas, lebar jalan, dan lain sebagainya. Untuk dapat saling mengenal dan berkomunikasi,
kita juga membutuhkan dengan yang namanya ruang, sungguh berharganya fungsi
ruang dalam kehidupan kita. Seandainya segala sesuatu dimampatkan hingga
menjadi satu titik, dan sebaliknya satu titik direntangkan dengan rentangan
yang tak hingga, lalu apa yang akan terjadi pada kita, dan pada kehidupan kita.
Aku disini dan Mekah disini, aku disini dan Santiago Barnebau disini, Jupiter
disini dan bumi disini. Tentu terbayangkan oleh kita, bagaimana akan kacaunya
kehidupan ini. Semuanya akan menjadi sesuatu yang sama, tanpa tebal, tanpa
panjang, tanpa isi, tanpa wadah dan tanpa bentuk.
Selain itu, waktu juga merupakan unsur suatu kehidupan. Waktulah
yang membedakan antara dulu, sekarang dan masa mendatang. Waktu pula yang
membuat kita tampak berbeda dulu dan sekarang. Waktu pulalah yang membuat zaman
menjadi berubah. Tanpa adanya waktu, bisa dipastikan dunia tidak akan pernah
berjalan. Saat ini kita hidup, dan saat ini pula kita mati. Saat ini matahari
terbit, dan saat ini pula matahari terbenam.
Lalu apa pula yang akan terjadi pada kita dan kehidupan kita. Tentu
kehidupan tak terasa seperti hidup, kematian tak terasa seperti mati. Bukan
karena berlangsung sangat cepat, namun karena cepat itu sendiri tidak dapat
terdefinisikan. Jika kita bandingkan umur yang akan kita jalani, dengan umur
dunia dari mulai terbentuk, tentu
perbandingannya akan sangat kecil sekali, tidak akan pernah sampe satu
persennya. Kita tidak akan ada apa-apanya, dan dapat diibaratkan bagai sebutir debu di tengah gurun pasir.
Jadi, kita sebagai matematikawan, pecinta dan pengagum matematika,
sudah seharusnya menyadari betapa matematika itu bukan hanya sekedar ilmu,
matematika juga alat sebagai pengingat, intropeksi diri, dan mungkin juga
sebagai jembatan yang diberikan Tuhan, agar kita selalu bersyukur. Alangkah
sombongnya seorang matematikawan yang lupa akan diri dan kodratnya. Waktu dan
ruang yang telah disediakan sesempurna mungkin oleh yang Maha Kuasa, tidak
dimanfaatkan sebaik – baiknya, menyia-nyiakan dengan kegiatan yang malah
membuat sang Pencipta merasa tidak dihormati dan dihargai. Sesungguhnya ruang
dan waktu yang disediakan adalah lahan untuk menciptakan sebanyak-bayaknya
kebajikan dan kebaikan, bukan malah membanggakan dan menyombongkan diri yang
sebenarnya tidak berarti apa – apa dimata sang pemilik ruang dan waktu.


0 komentar:
Posting Komentar