Aku, Sejarah Matematika dan Matematika
Apa kedudukanku dalam Matematika?
Matematika adalah salah satu bidang kehidupan yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan itu sendiri, termasuk dalam kehidupanku. Sadar ataupun tidak disadari, matematika mengiringi hampir disetiap langkah kehidupan. Walaupun sebenarnya konsep matematika adalah hasil penyempurnaan pikiran, namun ia sangat berperan dalam keberlangsungan proses kehidupan. Mengapa matematika dikatakan sebagai hasil penyempurnaan?
Sebagai jawabannya, akan dicontohkan sudut lancip seperti gambar berikut :
![]() | |||
![]() | |||
Gambar 1 Gambar 2
Pada gambar 1, apakah merupakan sudut lancip?
Pada gambar 2, apakah merupakan sudut lancip?
Hampir semua diantara kita, termasuk aku, menjawab bahwa gambar 1 merupakan sudut lancip, dan gambar 2 bukan merupakan sudut. Padahal bila kita kaji dengan seksama, dengan perbesaran 50 kali, akan terlihat sebenarnya dua garis pada gambar 1 tidaklah berpotongan, sehingga tidak mungkin membentuk sudut, apalagi sudut lancip. Selajutnya pada gambar 2, terlihat jelas bahwa kedua garis tersebut tidak membentuk sudut. Namun apabila diperkecil 20 kali dari gambar aslinya, maka kedua garis tersebut membentuk sudut lancip yang sempurna. Hal ini jelas membuktikan bahwa sebenarnya matematika itu adalah hasil penyempurnaan dari pikiran kita sendiri.
Berdasarkan hal tersebut, dapat kita simpulkan bahwa mempelajari matematika berarti sama saja seperti kita bercermin. Jadi, matematika itu adalah kita sendiri, diri kita, jiwa kita dan pikiran kita. Bila konsep itu sudah tertanam, maka kita dapat dikatakan sebagai matematikawan sejati..
Apa kedudukanku dalam Sejarah Matematika?
Sejarah Matematika merupakan salah satu bagian yang tidak dapat terlepaskan dari matematika. Dalam sejarah matematika inilah kita dapat mengetahui bagaimana matematika itu ada, baik dari penemuannya hingga perkembangannya. Dengan sejarah matematika ini pula kita dapat mengenal metode, objek, relasi, struktur, komponen, dan banyak hal yang terkait dengan matematika. Tentu dalam memahami sejarah matematika, kita juga harus menjadikan diri kita sebagai seseorang yang ada di dalam sejarah matematika. Misalnya saja untuk mempelajari sejarah matematika babilonia, maka diandaikan saja kita hidup pada masa itu, sehingga secara tidak langsung kita menjadi bagian dari sejarah matematika itu sendiri.
Jadi, sekali lagi dapat disimpulkan, mempelajari sejarah matematika berarti sama saja kita bercermin. Sejarah matematika itu adalah kita sendiri, diri kita, jiwa kita dan pikiran kita. Bila konsep itu sudah tertanam, maka kita dapat dikatakan sebagai matematikawan sejati.
Lalu, apa kedudukanku dalam Sejarah Matematika dan Matematika?
Aku adalah sejarah matematika, dan aku juga adalah matematika. Jadi matematika dan sejarah matematika adalah diriku, jiwaku dan pikiranku. Itulah aku yang seharusnya. Dengan aku yang seharusnya itu, tentu perjalananku untuk memahami sejarah matematika dan matematika menjadi semakin mudah. Dan yang paling penting dengan menjadikan diriku sebagai sejarah matematika dan matematika maka aku akan mendapatkan kebermanfaatan yang luar biasa, yang dapat mewujudkan mimpi-mimpiku di masa mendatang.




0 komentar:
Posting Komentar