Sabtu, 19 November 2011

"Looking for alternative in reference to Japanese Educational experiences"

By : Dr. Marsigit, M.A.


Perbedaan system dan proses pendidikan tampak jelas antara Indonesia dan Jepang. Di Indonesia Sistem pendidikan mengalami banyak permasalahan yang membuat rendahnya minat dan prestasi siswa dalam ilmu matematika dan sains. Pendidikan yang seharusnya menitik beratkan pada proses pengembangan pengetahuan dan keterampilan, tapi malah memfokuskan pada system evaluasi yang hanya menilai kemampuan siswa  secara kognitif saja. UN yang diadakan di penghujung semester menjadi titik tolak pemahaman dan keterampilkan siswa selama bersekolah. Hal ini yang memicu guru Sekolah Dasar dan Menengah menerapkan berorientasi tujuan daripada proses berorientasi pada pengajaran Matematika dan Sains.

Berbeda dengan Jepang, tujuan pendidikan matematika di Jepang adalah untuk mempelajari bagaimana untuk berpikir, titik pandang setiap hal, dan lebih baik pembentukan manusia melalui pembelajaran matematika; untuk mempelajari penggunaan praktis matematika, utilitas melalui pembelajaran matematika, dan untuk menikmati dan mengembangkan indah budaya warisan matematika melalui pembelajaran matematika (Nishitani, 2002). Lebih lanjut ia menyatakan bahwa karakteristik dari program baru dari studi di Jepang terdiri dari: (a) pengurangan isi pembelajaran, (b) penurunan jumlah kelas, (c) komprehensif lima hari minggu sekolah, (d) terintegrasi studi kegiatan matematika, (e) kegiatan praktis dan operasional dan pemecahan masalah kegiatan dan sebagainya, (e) basis poin pembelajaran aktif, (f) memiliki tujuan pembelajaran dengan jelas, (g) memiliki minat pada pelajaran, (h ) memiliki perspektif untuk memecahkan masalah, (i) memiliki rasa kepuasan dan sukacita, dan (j) memperoleh cara belajar.

Di Jepang, guru didorong untuk menjadi lebih fleksibel dan mengupayakan anak-anak harus aktif. Guru mendorong siswa mereka melibatkan dalam diskusi klasik. Diskusi menjadi kegiatan keseharian yang membangun ide dan kreatifitas siswa dalam mengembangakan ilmu dan keterampilannya. Guru lebih menekankan pada pemahaman pengajaran, ketimbang pemahan menghitung. Guru diberi kebebasan untuk membuat buku pegangan sendiri, yang akan diajarkan pada siswa. Sistem evaluasi diadakan rutin sebulan sekali. Gurupun lebih memperhatikan siswa yang menjawab salah, ketimbang yang menjawab benar. Guru tidak memaksa untuk menggunakan satu metode dalam penyelesaian masalah, tapi siswa diberikan kebebasan dalam pemecahan masalah, sehingga tidak terpaku pada satu metode, yang penting benar. Jadi terlihat bahwa di Jepang, pendidikan benar – benar mendidik dan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan anak.
Sudah seharusnya para pendidik, guru, dan Pemerintah di Indonesia mengaplikasikan system dan cara-cara dari Negara sakura tersebut, tentunya demi kemajuan negara kita, demi tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan bersama.
 

0 komentar:

Posting Komentar

 
;