Minggu, 13 Mei 2012 0 komentar

Galois


Kejeniusan dan Kebodohan

Évariste Galois dilahirkan pada tanggal 25 Oktober 1811 di Bourg-la-Reine, sebuah daerah pinggiran selatan kota Paris. Ia berasal dari keluarga terpelajar. Ayahnya, Nicolas-Gabriel Galois, memiliki kepahaman filsafat dan studi klasik, yang dikemudian hari terpilih menjadi seorang walikota. Adapun ibunya Adelaide-Marie  berasal dari keluarga praktisi ilmu hukum. Galois mempunyai saudara laki – laki bernama Alfred , dan saudara perempuan bernama Nathalie Theodore. Meskipun ia dilatarbelakangi oleh orang yang terpelajar, Galois tidak disekolahkan sampai umur 12 tahun. Ibunya lebih suka mendidik anaknya secara langsung dirumah, baik itu menulis, sastra klasik, filsafat hingga aritmatika.
Boleh dibilang bahwa kultur terpelajar ini membentuk kecenderungan Galois pada dunia ilmu. Dan memang dia mempunyai bakat, terutama di bidang matematika. Ia dikabarkan telah membaca dan mampu memahami karya matematikawan terkenal Legendre dan Lagrange di usia 15. Hal ini sangat menarik, karena pada dasarnya dia dibesarkan oleh keluarga yang tidak hobi matematika. Didikan keluarga ini kemudian membuat Galois jadi menyerap pendirian orangtuanya, termasuk di antaranya soal politik.  Memasuki usia 12, Galois mendaftar masuk sekolah asrama bergengsi Lycée Louis-le-Grand. Sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 1563, dan telah menghasilkan alumni terbaik, sebagai contoh Voltaire dan Victor Hugo. Walaupun begitu, semua gengsi itu ibarat fatamorgana dan pada akhirnya semua luruh dan lenyap di mata Galois. Di satu sisi ia mendapat pendidikan, akan tetapi di sisi lain, dia merasa kacau dengan keadaan pada saat itu. Semester pertama Galois berlangsung pada tahun 1823. Pada masa itu Revolusi Prancis sudah lewat beberapa tahun, akan tetapi, bumbu perpecahan masih terasa di seluruh negeri, begitu juga di Lycée Louis-le-Grand. Sebagai institusi yang menampung murid berbagai daerah, perdebatan dan perkelahian menjadi hal umum. Tidaklah aneh untuk menanggapi kecenderungan ini, pihak sekolah menerapkan disiplin yang ketat. Belum lagi satu semester sudah terjadi kekacauan. Sekelompok murid yang berhaluan liberal mengadakan protes, menolak tradisi menghormati Raja Louis XVIII. Sebagai akibatnya 117 orang murid dikeluarkan. Galois sendiri, biarpun tidak ikut serta, menyaksikan hal itu sebagai ketidakadilan, Galois akhirnya menjadi pendukung militan Republik Prancis.
Adapun dari segi pendidikan, Galois tidak mengalami masalah. Dua tahun pertama ia lewati dengan lancar. Nilai-nilainya cukup bagus, kecuali pada pelajaran retorika. Namun pada semester tiga, nilai-nilainya jeblok, hal ini dikarenakan ia terlalu fokus dengan matematika dan mengabaikan yang lain.  Tahun terakhir Galois di Louis-le-Grand boleh dibilang berupa mixed bag of result. Di satu sisi ia mulai mendalami matematika tingkat lanjut, bahkan hingga mengirim tulisan ke jurnal akademik. Meskipun begitu, keberhasilan itu harus dibayar mahal. Seiring meningkatnya ketegangan politik di Prancis, keluarga Galois yang liberal mulai mendapat tekanan. Sebuah awal dari rangkaian peristiwa yang dalam waktu singkat akan memicu keambrukan mental Galois.
Sebagaimana telah disebut di awal, ayah Galois adalah seorang walikota liberal. Ia terang-terangan menentang monarki, begitu pula anaknya, Galois. Kepopulerannya sebagai walikota Bourg-la-Reine ditunjang oleh kecerdasan bermain kata dan puisi,  hal yang disenangi orang-orang sebagai hobi. Sayangnya malang tak dapat ditolak. Melalui sebuah konspirasi, pendeta gereja lokal memalsukan tanda tangan Walikota, menyebarkan surat palsu bernada fitnah. Peristiwa ini menimbulkan skandal besar. Dipermalukan dan dituduh secara tidak adil, Nicolas-Gabriel akhirnya mundur dari jabatan. Ia memboyong keluarganya pindah, akan tetapi, sisa hidupnya tidak damai. Nicolas-Gabriel akhirnya bunuh diri pada tahun 1829.
Kepergian sang ayah menimbulkan dampak hebat pada psikologi Galois. Apabila kegemaran dengan matematika telah mendorongnya jadi singular dan tertutup, maka tewasnya Nicolas-Gabriel membuatnya jadi getir dan sinis. Di sinilah awalnya Galois menjadi sosok keras yang paranoid. Dalam dua tahun selanjutnya, ia akan dihinggapi neurosis, yang kemudian akan dilampiaskan dalam berbagai demonstrasi antipemerintah. Adapun pukulan terakhir, dan paling keras, terjadi satu bulan pasca kematian Ayahnya, Galois memutuskan ikut ujian masuk perguruan tinggi. Di tahun sebelumnya ia sudah mendaftar École Polytechnique, akan tetapi ia gagal karena kurang persiapan. Tahun ini adalah kesempatan terakhir,  seseorang hanya boleh mendaftar dua kali. Apabila tahun ini juga gagal maka Galois harus mencari kampus lain.
Tak susah membayangkan bahwa Galois menjalani ujian dalam kondisi kacau. Belum lama ayahnya bunuh diri, lalu pemakaman berujung rusuh, dan kini dia harus ujian. Tidak mengherankan bahwa dia akhirnya gagal. Namun, akibat kekacauan yang terjadi dalam dirinya, ia menjadi seorang yang pemarah. Sebuah versi sejarah mengatakan bahwa ia menganggap pengujinya terlalu bodoh, tidak mampu memahami kejeniusan dirinya,  versi lain mengatakan bahwa ia sampai melempar penghapus papan tulis karena frustrasi. Kegetiran Galois kelak akan semakin menjadi-jadi. Memasuki perguruan tinggi sekunder yang kalah bergengsi, ia akan menjadi seorang agitator militan. Pun begitu Galois tidak melupakan passion di bidang matematika justru karya terbaiknya akan muncul di periode ini.
Ditolak masuk kampus pilihan utama, Galois akhirnya terdampar di pilihan kedua, École Normale. Peristiwa ini terjadi di awal tahun 1830. Ironisnya, justru di kampus ini jiwa matematika Galois berkembang. Setengah tahun sebelumnya, Galois telah mencoba mengirim manuskrip kepada Akademi Sains Prancis. Ini adalah formulasi awal dari Teori Galois — teori yang menjelaskan tentang solusi polinomial orde-5. Guru matematika Galois sendiri, Louis-Paul-Emile Richard, mengantarkannya pada matematikawan Cauchy. Anehnya, entah karena apa, Cauchy tidak pernah mempresentasikan manuskrip tersebut di Akademi. Ada kemungkinan manuskrip itu hilang atau terselip. Meskipun demikian, sebuah versi mengatakan bahwa Cauchy memuji karya Galois, dan ingin agar karya tersebut disempurnakan demi nominasi Grand Prix des Sciences Mathematiques. Apapun yang terjadi, yang jelas manuskrip ini akhirnya terlupa dan terabaikan. Melihat karyanya seolah tak diperhatikan, Galois memutuskan untuk merevisi dan mengirim langsung ikut Grand Prix. Sayangnya lagi-lagi ia tak beruntung. Manuskrip diberi ke matematikawan Fourier untuk dinilai, akan tetapi Fourier meninggal sebulan kemudian. Entah bagaimana di antara peninggalannya tak terdapat manuskrip Galois. Lagi-lagi, karya Galois terlupakan. Di luar itu sendiri, sepanjang tahun 1830 Galois menuliskan tiga buah paper dimuat dalam jurnal Ferrusac Bulletin  terkait teori angka dan persamaan. Masing-masingnya dengan judul terjemahan Inggris, “An analysis of a memoir on the algebraic resolution of equations”, “Notes on the resolution of numerical equations”, dan “On the theory of numbers.”
Adapun memasuki tahun 1831, Galois diminta untuk menulis ulang karya yang diberikan kepada Cauchy dan Fourier. Untuk kali ini, matematikawan Poisson yang melakukan penilaian, tetapi pada akhirnya ia pun menolak Galois bukan karena salah, melainkan karena penjelasannya terlalu abstrak. Rekomendasinya adalah agar paper itu ditulis ulang/disempurnakan.
Guigniault, seorang konservatif, adalah dosen yang melarang mahasiswanya berpolitik. Galois, sebaliknya: jiwa aktivis yang dimilikinya sangat kuat. Tak pelak ia dan Guigniault sering berdebat. Puncaknya terjadi ketika Guigniault menerbitkan surat terbuka menyerang seorang guru berhaluan liberal. Belum lagi lama di École, tetapi Galois sudah berani menantang. Guigniault tidak lagi menoleransi. Galois akhirnya dikeluarkan dari sekolah — dan untuk selanjutnya, harus berjuang menghidupi diri sendiri.  Masa-masa selanjutnya, sekaligus merupakan tahun terakhir hidup Galois, boleh dibilang yang paling kelam. Dia dipecat dari sekolah dan tak punya pekerjaan. Frustrasi akan penolakan kalangan ilmiah, ia tak lagi menghasilkan karya matematika. Galois kini mencari pelarian lewat aktivitas radikal dan minuman keras.  Tercatat bahwa Galois dua kali ditahan polisi karena berdemo. Yang pertama, ketika dalam sebuah acara perayaan, dia bersulang untuk Raja Louis-Philippe sambil menadahkan pisau. Hal ini dianggap sebagai ekspresi ancaman. Adapun yang kedua, ketika ia dengan nekat mengenakan seragam artileri dan berkeliling kota membawa senjata: setidaknya dua pistol, satu bedil, dan sebuah belati.  Jikalau tadinya ada orang meragukan militansi Galois maka, lewat dua peristiwa di atas, kesan itu pupus sudah. Ia kini telah menjadi radikal yang seradikalnya. Tidak heran bahwa pada akhirnya ia divonis penjara enam bulan.  Ironisnya kemalangan Galois tidak berhenti sampai di situ. Menjelang dihukum penjara pun kabar buruk masih menimpanya. Revisi paper yang diserahkan pada Poisson dan Lacroix, yang berbulan-bulan tidak ada kabar, akhirnya resmi ditolak. Peristiwa ini merupakan pukulan besar akan harapan Galois mendapat pengakuan ilmiah.
Dan memang kepindahan itu memberi nilai positif. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Galois menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada matematika atau idealisme Revolusi. Dia jatuh cinta pada putri seorang dokter di Sieur Faultier  seorang gadis bernama Stephanie Potterin du Mottel. Sayangnya, sebagaimana banyak hal lain di kehidupan Galois: cinta ini pun mengalami penolakan. Stephanie yang awalnya berteman baik dengan Galois perlahan menarik diri. Entah apa alasannya  barangkali disumbang oleh temperamen Galois. Bagaimanapun akhirnya hubungan itu kandas.
Selepas hubungannya dengan Stephanie, Galois semakin tenggelam dalam politik. Dari dalam tahanan ia berkoordinasi dan mendiskusikan ide-ide progresif. Meskipun begitu, bulan Mei telah tiba, dan masa hukuman telah habis. Galois kembali menjadi orang bebas.

Tiba-tiba saja, tanpa latar belakang jelas, Galois menulis surat pada teman-temannya: bahwa ia telah ditantang untuk berduel menggunakan pistol
Terdapat beberapa teori terkait latar belakang duel Galois. Satu versi meyakini Galois dijebak oleh rezim pemerintah; versi lain mengatakan duel itu terkait masalah wanita. Versi lain lagi menyatakan bahwa Galois hendak dijadikan martir politik: sebagai aktivis radikal, kematiannya akan berguna menggelorakan simpati. Mengenai hal ini para sejarahwan tidak sepakat, dan kemungkinan, tidak akan pernah sepakat

Terlepas dari penyebabnya, satu hal sudah jelas di pagi hari 30 Mei 1832, Évariste Galois pergi ke lapangan terbuka untuk duel pistol. Menarik untuk dicatat bahwa dia begitu pesimis  begitu yakin akan mati dalam duel tersebut. Yang mana, hal ini memicu sebuah tindakan legendaris. Galois, menyadari bahwa akhir hidupnya sudah dekat, menuliskan semua teori matematikanya dalam satu malam berbentuk surat dan menitipkan pada sahabatnya Chevalier. Surat tersebut sekaligus mengandung catatan tentang riset terbaru Galois, yang tidak terdapat dalam publikasi sebelumnya. Kelak lembar-lembar itu akan diperiksa matematikawan Liouville dan diterbitkan dalam Journal de Mathématiques Pures et Appliquées sebelas tahun setelah kematian penulisnya.
Bahwa Galois sosok jenius, hal itu sulit disangkal. Di usia duapuluh tahun ia membuka cakrawala baru di bidang matematika. Sumbangannya bernilai signifikan di bidang teori grup dan simetri di samping sentuhan sana-sini terkait teori angka. Hanya saja, karena satu dan lain hal, ia tidak dapat bersumbangsih lebih lama. Akhirnya usia juga yang membatasinya.

Akan tetapi, yang membuat Galois menarik bukan semata karena dia jenius justru sebaliknya. Yang membuat Galois istimewa adalah berbagai kontradiksi inheren dalam dirinya. Seorang matematikawan yang berpolitik; romantis yang galak; jenius yang hampir gila didera penderitaan. Hampir sepanjang hidupnya dia ditolak karena “nggak pernah nyambung” sebab memang begitu banyak sisi yang dimiliki. Semua itu berkontribusi membentuk pribadi “Galois” yang unik.
Barangkali satu hal yang perlu ditekankan adalah: betapapun Galois itu cerdas, bukan berarti dia tidak bodoh. Benar bahwa dia mampu menghasilkan kontribusi ilmiah yang besar. Akan tetapi dia juga mempunyai sisi ketololan tersendiri, dengan sengaja memancing dipecat dari sekolah, hidup luntang-lantung menyalahgunakan alcohol, langganan keluar-masuk penjara. Ditambah lagi bahwa ia sepertinya menderita gangguan jiwa, selepas kematian ayahnya, Galois adalah seorang getir, pengumpat, dan paranoid.
0 komentar

Matematika Peluntur Kesombonganku


Matematika peluntur Kesombonganku
Matematika bukan hanya sebagai ilmu, matematika juga mengandung kultur, kreatifitas dan konteks. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk mengetahui seluk beluk matematika. Pada dasarnya, unsur kehidupan itu ada dua, yaitu ruang dan waktu.  Dengan adanya ruang, maka kita akan tahu bagaimana fisik, wujud, wadah maupun isi tentang sesuatu.  Misalnya saja, bentuk kursi, bentuk meja, keadaan kelas, panjang kertas, lebar jalan, dan lain sebagainya.  Untuk dapat saling mengenal dan berkomunikasi, kita juga membutuhkan dengan yang namanya ruang, sungguh berharganya fungsi ruang dalam kehidupan kita. Seandainya segala sesuatu dimampatkan hingga menjadi satu titik, dan sebaliknya satu titik direntangkan dengan rentangan yang tak hingga, lalu apa yang akan terjadi pada kita, dan pada kehidupan kita. Aku disini dan Mekah disini, aku disini dan Santiago Barnebau disini, Jupiter disini dan bumi disini. Tentu terbayangkan oleh kita, bagaimana akan kacaunya kehidupan ini. Semuanya akan menjadi sesuatu yang sama, tanpa tebal, tanpa panjang, tanpa isi, tanpa wadah dan tanpa bentuk.  
Selain itu, waktu juga merupakan unsur suatu kehidupan. Waktulah yang membedakan antara dulu, sekarang dan masa mendatang. Waktu pula yang membuat kita tampak berbeda dulu dan sekarang. Waktu pulalah yang membuat zaman menjadi berubah. Tanpa adanya waktu, bisa dipastikan dunia tidak akan pernah berjalan. Saat ini kita hidup, dan saat ini pula kita mati. Saat ini matahari terbit, dan saat ini pula matahari terbenam.  Lalu apa pula yang akan terjadi pada kita dan kehidupan kita. Tentu kehidupan tak terasa seperti hidup, kematian tak terasa seperti mati. Bukan karena berlangsung sangat cepat, namun karena cepat itu sendiri tidak dapat terdefinisikan. Jika kita bandingkan umur yang akan kita jalani, dengan umur dunia  dari mulai terbentuk, tentu perbandingannya akan sangat kecil sekali, tidak akan pernah sampe satu persennya. Kita tidak akan ada apa-apanya, dan dapat diibaratkan  bagai sebutir debu di tengah gurun pasir.
Jadi, kita sebagai matematikawan, pecinta dan pengagum matematika, sudah seharusnya menyadari betapa matematika itu bukan hanya sekedar ilmu, matematika juga alat sebagai pengingat, intropeksi diri, dan mungkin juga sebagai jembatan yang diberikan Tuhan, agar kita selalu bersyukur. Alangkah sombongnya seorang matematikawan yang lupa akan diri dan kodratnya. Waktu dan ruang yang telah disediakan sesempurna mungkin oleh yang Maha Kuasa, tidak dimanfaatkan sebaik – baiknya, menyia-nyiakan dengan kegiatan yang malah membuat sang Pencipta merasa tidak dihormati dan dihargai. Sesungguhnya ruang dan waktu yang disediakan adalah lahan untuk menciptakan sebanyak-bayaknya kebajikan dan kebaikan, bukan malah membanggakan dan menyombongkan diri yang sebenarnya tidak berarti apa – apa dimata sang pemilik ruang dan waktu.
 
;